PENERJEMAHAN PARADOKS PERILAKU ANAK MUDA INDONESIA DI ERA MODERN KE DALAM BAHASA DESAIN ARSITEKTUR GEREJA KRISTEN INJILI

Cathleen Charity Chandra

Abstract


Seiring berkembangnya zaman, pola dan gaya hidup berubah. Perubahan ini mencakup perubahan demografis, dimana yang terbanyak adalah kelompok usia 16-30 tahun, disebut generasi muda. Di Indonesia, kelompok usia ini merupakan 33,75% dari keseluruhan komposisi penduduk. Generasi muda memiliki keunikan dan gaya hidup yang berbeda dari generasi lainnya. Hal ini berdampak dalam segala aspek kehidupannya, termasuk di gereja. Menurut studi, anak muda merasa gereja tidak lagi relevan terhadap kehidupannya. Fenomena ini menyebabkan peningkatan keterhilangan anak muda di gereja. Mereka tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Hal ini disebabkan oleh kurangnya adaptasi gereja. Sikap yang kurang merespon terhadap perubahan zaman ini menjadi salah satu faktor dari hilangnya anak muda dari gereja. Oleh karena itu, maka dibutuhkan studi mengenai kecenderungan perilaku anak muda yang kemudian dapat diturunkan dalam kelompok-kelompok kata yang berbeda namun bersifat komplementer, atau disebut juga paradoks. Selain itu, Teologi Kristen juga menjadi dasar dalam perancangan. Kedua hal ini yang akan
diterjemahkan ke dalam bahasa desain menggunakan teknik pemaknaan melalui arsitektur puitik. Hal ini dilakukan secara kualitatif. Penerjemahan ini diharapkan meningkatkan adaptasi gereja dan
mengurangi keterhilangan anak muda dari gereja dengan menyampaikan pesan Teologi yang sesuai dengan konteks zamannya yang dituangkan ke dalam kriteria desain.

 


Keywords: gereja, anak muda, Bahasa desain, arsitektur gereja.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.